bebas finansial bersama betonmarkets

Rabu, 24 Agustus 2011

whiteboard

jangan heran jika sekarang saya nyaman mengajar di desa, ketimbang di kota. jika di kota saya mengajar anak2 yang memang sudh kaya dan pasti terjamin pendidikannya oleh orang tuanya..
tp saya masi heran, sampai detik ini belum banyak orang sadar betapa pentingnya pendidikan..
jika dibandingkan, mungkin ini hanya pendapat saya sebagai mantan guru private, saya memiliki sedikit pengalaman yang unik tentang menghargai jasa guru private..
jika orang china memberi saya gaji lebih bahkan 80 - 100 per satu kali pertemuan itu biasa,, asalkan saya membimbing anaknya dengan baik dan tekun dalam arti tidk terlambat, dan waktu efisien dalm mengajar.. juga diberi kepercayaan penuh dlm arti tidk ditunggu dan diawasi..
jika orang kita, memberi saya gaji 30 rb satu kali pertemuan itu masi ditawar kalo bisa 25 per sekali pertemuan, kadang ditunggu, didikte, bahkan tak jarang tidk diberi minuman :)



 dan uniknya, hal serupa saya alami di desa yg sekarang saya ditugaskan..
banyak orang yang memiliki tingkat kehidupan, dalam arti sosial sudh lumayan tp kesadaran pendidikannya kurang.. guru asli disana bercerita, orang tua disini adalah orang trans, buka lahan.. mungkin itu sebabnya walaupun mereka sudh bisa menikmati hasil perkebunan sawit dan karet, tp mereka toh menganggap pendidikan belum begitu penting, jika ada anak yang lulus smp, lalu orang tuanya beri opsi ; mau lanjut sekolah atau dibelikan motor vixion? ternyata anak anak disana memilih untuk motor vixion..
lalu ketika saya mengajar bahasa inggris,, saya tidk berkutik.. motivasi dr orang tua tidk ada, motivasi belajar, persaingan dr teman sekolah juga tidk ada.. apa yang akam memaksa mereka utk berprestasi?
tohh.. kehidupan mereka sudh nyaman dgn berkebun...

lalu saya berfikir, rasa prihatin saya terusik..jika kemarin saya bersemangat utk keluar dr area pekerjaan saya terdahulu.. walaupun secara pendapatan bahkan bisa dikatakan lebh dari cukp.. tp saya tidk bisa mundur.. bahkan jembatan yang saya lalui di kepala saya,, sudh ambruk.. tidk ada kata tidk.. lanjutkan dan  jangan berhenti..

motivasi apa yg bisa saya beri untuk anak anak didikku,, terkadang ketika saya mengajr saya berfikir kelak kalian harus lebih baik nasibnya dr generasi trans disini.. bukan hanya berkebun, itu bagi yg punya kebun.. klo yg orang tuanya buruh kebun, otomatis anaknya akan menjadi buruh kebun, yang perempuan segera menikah atau jadi pembantu di luar negeri atau dalam negeri...

aahhh.. betapa ngerinya,, tp mengapa tidk banyak yg peduli.. bahkan papan tulis masi menggunakan kapur,, jika ditelusuri tp aq tidk tau pastinya ini benar atau salah,, dana bos pemerintah utk pengadaan operasioanl sekolah itu lebih dr cukup utk membeli whiteboard,, sampai ingin rasanya membelinya dengan uang pribadi, klo memang sekolah tidk mampu membeli... tarik nafas dalam2..
awalnya saya tidk ingin peduli, tp tetap saja, ada rasa muak.. cerminan pribadi bangsaku.. mementingkan kepentingan nya sendiri diatas kepentingan orang lain,, jika dalam instansi pendidikan saja dana sudh carut marut, bagaimana dengan yang lainnya?

knapa sihhh tidk takut dosa, tidak takut mati?
jika inspektorat saja, yang harusnya mengawasi bertanggung jawab atas dana dana operasioanl sekolah, sudh memasang "tarif".. lalu bagaimana sistem bersih itu akan dimulai.. saya rasa saya akan gila jika saya membahasnya...

itu uang kecil, bagaimana dengan pajak?
 ketika saya membayar pajak di samsat .. antrian nya sangat panjang, dateng pagi selesai sore atau bahkan besok lagi, satu hari mungkin lebh dari 500 kendaraan bermotor membayar pajak dikalikan sekian sekian..
lalu kemanakah uang itu dialokasikan... tp, saya ini cuma orang awam,, maaf jika saya salah berfikir, maaf jika apa yang saya perkirakan tidk benar...
tp, saya tidk menyalahkan sistem yang sudh bobrok ini,, apa sebenrnya yg bobrok.. akhlak? atau sistem?
jika sekarang saya sudh jauh2 lari ke desa tp yang saya lihat, lebih parahhh... maka sekarang saya punya satu gagasan yg menarik.. saya ingin mjd seorang pengawas, entahlah saya ingin benar2 memulai sesuatu yg baik.. setidak tidaknya papan berkapur itu diganti dengan whiteboard,.......

2 komentar:

Ku Lihat, Ku Dengar, Ku Rasa mengatakan...

Brbagi pngalaman yg sma plek kasusnya
yg d almi dgn sist..
tdk bsa d hindri bhwa ni tgs qta,
nmun
pa sya bsa?
smpai dtik ni sya msh mmikirkn hal tu...
bnar2 sbuah kbtulan dri crta ni

sherafim77 mengatakan...

kulihat kudengar kurasa@ bner sist.. aq sedih memikirkannya, jika tidk ada yg memulai utk lebih peduli, lalu siapa?? semoga akan ada perubahan yg lebih baik utk ke depannya nanti.. demi generasi bangsa yg lebih baik.